Senin, 03 November 2008

PETA CAPRES 2009

TA. Legowo

(FORMAPPI)

Suara Merdeka, 30 Oktober 2008

Hari-hari makin dekat menjelang pemilu presiden (Pilpres) 2009. Intensitas ketegangan politik pun makin meningkat. Bukan saja karena instrumen hukumnya masih dalam tarik ulur kepentingan partai politik (parpol) dalam pembahasan RUU Pilpres 2009, tetapi juga pertarungan antara calon-calon presiden (capres) lama dan baru makin mengkristal dalam kubu-kubu politik. Pertanyaannya, siapa di antara capres-capres itu mempunyai potensi paling besar menduduki kursi presiden 2009?

Capres Lama vs Capres Baru

Capres-capres lama (pernah maju dalam Pilpres 2004) yang akan maju kembali dalam Pilpres 2009 makin jelas. Mereka ini adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Megawati Soekarnopoetri (MS), Wiranto, dan Jusuf Kalla (JK), serta mungkin sekali akan menyusul Amien Rais. Masing-masing capres ini, kecuali AR, relatif kuat karena mempunyai partai politik pendukung: SBY dengan Demokrat, MS dengan PDIP, Wiranto dengan Hanura, dan JK dengan Golkar.

Tidak diragukan bahwa Golkar, PDIP dan Demokrat merupakan tiga parpol besar dan menengah yang mempunyai potensi untuk menggalang dukungan dari parpol lain dalam menominasi capres masing-masing. Meskipun merupakan parpol baru, Hanura sangat potensiil menjadi parpol menengah-besar terutama jika dilihat dari kesiapan menyajikan bakal calon legislatif untuk pemilu legislatif 2009. Hanura merupakan satu di antara 6 parpol (Demokrat, Golkar, PDIP, PAN dan PKS) yang mampu menyajikan jumlah calon legislatif dalam daftar calon sementara (DCS) melebihi jumlah 560 kursi DPR.

Dalam berbagai survei popularitas (polling) selama tiga bulan terakhir, hanya dua capres di antara lima capres (cawapres) lama itu yang secara konsisten berada dalam posisi atas, yaitu SBY dan MS. Meski tidak selalu dalam posisi teratas dalam berbagai polling itu, SBY dan MS tidak pernah turun (jatuh) dalam posisi di bawah tiga (3) besar. Sementara tiga capres lama yang lain secara konsisten terpuruk dalam posisi bawah.

Polling memang tidak memastikan hasil akhir pilpres 2009 yang masih akan digelar pertengahan tahun depan. Namun polling ini merefleksikan penilaian (dukungan) masyarakat pada saat kegiatan itu dilaksanakan terhadap capres-capres tersebut. Karena itu, polling-polling yang akan datang dapat saja berbeda dengan polling-polling yang pernah diadakan hingga saat ini.

Pernyataan Sri Sultan Hamengkubuwono X (SH) untuk bersedia maju dalam Pilpres 2009 menandai makin banyaknya potensi capres-capres baru. Selain SH, hingga saat ini tercatat tokoh-tokoh seperti Prabowo Subianto (PS), Soetiyoso, Hidayat Nur Wahid (HW), Rizal Ramli, Yusril Ihza Mahendra, Fadjroel Rahman, Rizal Mallarangeng dan sebagainya telah telah mendeklarasikan diri, atau paling kurang, menyatakan keinginan sebagai capres 2009.

Banyak capres baru menandai fakta politik bahwa pada akhirnya Indonesia mempunyai banyak sumber daya kepemimpinan nasional. Tentu saja ini tidak berarti semua sumber daya ini berpeluang untuk, bahkan, dinominasi sebagai capres 2009.

Di antara banyak nama itu, dua saja tokoh yaitu HW dan PS yang paling mempunyai peluang untuk memperoleh dukungan dari parpol yang berpotensi menjadi menengah-besar. Parpol-parpol ini adalah PKS dan Gerindra. Dalam dua pemilu terakhir (legisaltif 1999 & 2004) raihan suara PKS meningkat tajam, yang mungkin sekali akan bertambah makin besar di Pemilu 2009. Meski merupakan parpol baru, selain masuk dalam kategori parpol baru yang mempunyai struktur kepengurusan lengkap di 33 propinsi dan sebagian besar kabupaten/kota, Gerindra mampu mengambil simpati masyarakat kebanyakan melalui iklan-iklan politik-nya yang amat berpihak pada rakyat kecil.

Dari sisi popularitas, polling dalam tiga bulan terakhir memperlihatkan kecenderungan dukungan yang meningkat kepada tiga capres baru, yaitu SH, PS dan HW. Sementara capres baru lainnya mendapat dukungan yang relatif rendah dan atau bahkan tidak didukung sama sekali. Boleh dikatakan, karena itu, capres baru yang akan menjadi alternatif pilihan tertuju kepada tiga tokoh tersebut. Di antara ketiga tokoh itu, SH terlihat memperoleh dukungan yang secara konsisten meningkat dalam posisi atas.

Persaingan Koalisi Besar Parpol

Disepakatinya syarat 20% kursi DPR atau 25% suara sah nasional pemilu legislatif sebagai syarat bagi parpol atau gabungan parpol untuk mencalonkan pasangan capres-cawapres dalam Pilpres 2009 mengharuskan capres-capres lama dan baru di atas untuk bersaing pula dalam memperoleh (memperebutkan) dukungan parpol atau gabungan parpol untuk memuluskan jalan menuju kursi presiden. Syarat tersebut akan menghasilkan maksimal hanya empat (4) pasangan capres dan cawapres boleh bersaing dalam Pilpres 2009.

Jika menggunakan hasil Pemilu 2004 sebagai suatu refleksi, hanya Golkar saja yang secara sendirian dapat menominasi pasangan capres-cawapres untuk dapat memenuhi syarat 20% kursi DPR; sementara tidak satu pun parpol dapat memenuhi syarat 25% suara syah pemilu legisaltif. Dalam banyak perkiraan, hasil pemilu legislatif 2009 tidak akan berbeda jauh dengan komposisi hasil Pemilu 2004, dalam arti parpol lama maupun baru akan sulit menembus perolehan suara hingga 25%.

Untuk memenuhi persyaratan itu, parpol-parpol harus berkoalisi agar dapat memajukan pasangan capres-cawapres. Koalisi parpol ini pun terbatas hanya sampai dengan maksimal 5 koalisi dengan kombinasi dua basis syarat di atas. Masalahnya, bagaimana koalisi ini akan terbentuk?

Parpol besar baik lama maupun baru, terutama, dapat dipastikan tidak akan menyerah begitu saja dengan usulan capres-nya. Aritnya, parpol-parpol ini tidak akan bersedia untuk menempatkan tokohnya dalam posisi cawapres di dalam koalisi. Karena itu, sulit dibayangkan Golkar, PDIP, dan jika menang besar, PKS, Hanura dan Gerindra, akan saling berkoalisi.

Keadaan seperti itu membuka peluang bagi parpol menengah untuk mengambil posisi strategis dalam menentukan koalisi parpol. Biasanya, parpol menengah cenderung fleksibel untuk dapat menerima penempatan posisi tokohnya sebagai cawapres.

Jika parpol dapat dikelompokkan secara politis dalam aliran nasionalis, nasionalis-religius, dan religius (Islam) sebagaimana terkesankan selama ini, kemungkinan koalisi parpol yang akan bersaing dalam Pilpres 2009 mengkurucut dalam tiga aliran besar itu. Golkar atau PDIP atau partai nasionalis lainnya terbuka untuk berkoalisi dengan PKS atau PAN atau parpol Islam lainnya. Demikian juga, Golkar atau PDIP berpeluang untuk membentuk koalisi dengan parpol nasionalis; dan, parpol-parpol Islam membentuk koalisi besar sendiri.

Belum Usai

Meski kecenderungan kaolisi parpol memberikan sedikit kepastian tentang pola persaingan parpol dalam Capres 2009, perburuan untuk kursi presiden belum usai. Para bakal Capres 2009 masih harus memupuk popularitas untuk memastikan tiket nominasi parpol atau koalisi parpol. Persaingan mendapatkan tiket nominasi akan dimulai seusai RUU Pilpres disyahkan nanti. Tetapi perburuan kursi presiden akan semakin panas sesuai pemilu legislatif yang baru akan dilaksanakan pada 9 April 2009.

Peta Capres 2009, karena itu, masih akan berubah. Dan perubahan ini akan tergantung dari bukan saja perilaku para capres itu, tetapi juga interaksi antar parpol, serta antara capres-capres unggulan dan parpol atau koalisi parpol. Sementara itu, rakyat mungkin hanya bisa menjadi saksi bisu pernburuan kekuasaan di antara para elit dan parpol ini.

Tidak ada komentar: